Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

INDIVIDUALIS, MATERIALIS DAN HEDONIS

(Luk 21:34)

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat”

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Karena kemajuan jaman, perkembangan teknologi, dan beragam kebutuhan manusia, muncullah sikap-sikap yang disebut individualistis, materialistis dan hedonistis. Sikap individualitis adalah sikap mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli dengan kepentingan orang lain. Di kota-kota besar hal itu sangat terasa. Dengan tetangganya saja mereka tidak bertegur sapa, bahkan ada yang tidak kenal siapa tetangganya. Apalagi mereka yang tinggal di apartemen atau kondominium. Mereka datang dan pergi setiap hari tanpa bertegur sapa dan tidak ada basa-basi. Bahkan mereka tidak tahu kalau tetangganya itu  sedang sakit dan butuh perhatiannya. Sikap materialits adalah sikap yang mementingkan harta benda, kepemilikan rumah, mobil, uang dan sejenisnya. Bahkan mereka tidak siap menjalani hidup tanpa kecukupan harta dan benda. Bangun tidur hingga sebelum bobok yang ada dipikirannya adalah menumpuk harta sebanyak-banyaknya. Bahkan mereka menilai sesamanya dan menghargakan mereka demi dan untuk serta karena sejumlah uang. Sikap hedonistis adalah sikap ingin menikmati kebutuhan-kebutuhan duniawi tanpa batas dan sepuas-puasnya. Keadaan ini juga menghampiri orang-orang kristen yang hidup dewasa ini. Kita hidup bersama orang lain di bumi ini dan menjadi bagiannya.

Saudara-saudari terkasih,

"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi.", demikianlah sabda Tuhan hari ini. Nasehat Tuhan yang sudah berusia 2000 tahun-an ini diperdengarkan kembali untuk kita. Orang Jawa bilang: "Urip kui mung mampir ngombe", artinya hidup ini hanya persinggahan untuk meneguk air. Hanya sebentar waktunya. Kita harus siap untuk kehidupan yang berikutnya, yaitu hidup kekal bersama dengan Allah. Bagaimana mungkin hal itu terjadi kalau hati kita dan seluruh keberadaan kita selalu terikat pada harta duniawi? Sedemikian terikatnya kita pada harta duniawi, bahkan ada orang yang mendewakan keduniawian itu. Orang tidak siap hidup dalam kemiskinan; ada orang yang memutuskan bercerai sebagai solusi gampang, ketika suaminya kehilangan pekerjaan dan tidak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Orang memilih gantung diri karena malu pada tetangga dan kerabatnya setelah di-phk, sebab dia tidak terlihat "berkecukupan" lagi, tanpa mobil dan tanpa kecukupan uang. Ini sudah keterlaluan.

Saudara-saudari terkasih,

Dalam Injil kita membaca atau pernah mendengar tentang kisah "Orang kaya dan Lazarus yang miskin". Orang kaya  itu berpesta pora, sedangkan si miskin Lazarus hidup berkekurangan. Orang kaya itu tidak peduli akan nasib Lazarus. Perhatikan nasib keduanya setelah mereka meninggal. Lazarus berada di pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya yang tidak peduli akan sesamanya itu menderita di api yang tak terpadamkan. Orang kaya ini minta supaya Lazarus datang kepadanya, tapi semuanya sudah terlambat; ia minta agar ada malaikat atau nabi yang turun ke dunia untuk mengingatkan mereka agar tidak bernasib sama dengan dirinya; itu bukan urusannya, sebab pada mereka sudah ada Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi. Sudah terlambat. Hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kita semua akan "ketamakan", akan kerakusan untuk memiliki sendiri harta duniawi dan kenikmatan jasmani. Selama hidup di dunia ini kita memang membutuhkan uang; selama berziarah di dunia ini kita butuh harta duniawi; selama menjalani hidup di dunia ini kita membutuhkan teknologi dan lain sebagainya; tetapi ...apakah kebahagiaan hidupmu bisa dibeli dengan uang, dapat digantikan dengan harta dan diatasi oleh kecanggihan teknologi? Tidak dapat dipungkiri bahwa hidup yang normal, hidup yang bisa disebut layak adalah hidup yang terpenuhi kebutuhan dasarnya: sandang, pangan, papan dan kesehatan.

Saudara-saudari terkasih,

Mengapa orang mencuri? Mengapa orang korupsi? Mengapa orang menimbun harta untuk dirinya sendiri? Orang mencuri karena ia tidak mau bekerja, malas. Malas adalah satu dari tujuh dosa pokok. Orang yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan, kata santo Paulus. Orang korupsi, karena ia tamak dan tidak pernah puas dan tidak bisa bersyukur  dengan apa yang diberikan oleh Tuhan; orang menimbun harta untuk dirinya sendiri, karena kekuatiran yang berlebihan. Ia menjadi orang kikir, pelit untuk berbagi dengan orang lain. Gaya hidup indivdualistis, materialistis dan hedonistis; gaya hidup mementingkan diri sendiri, mengutamakan harta dan mengedepankan kenikmatan tanpa batas itulah yang mau diingatkan Tuhan Yesus kepada kita. Orang bijak berpesan, "harta yang dibagikan, akan kembali kepada tuannya dengan kelipatannya". Dalam bahasa Tuhan Yesus: "Yang engkau tabur itulah juga yang engkau tuai." Menurut Kitab para nabi, dan merupakan kaidah emas dalam Matius 7:12 dikatakan: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka." Inilah saatnya menyadari dan menanggapi yang disabdakan Tuhan pada hari ini, agar kita "menjaga diri, supaya hati kita jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi."

 

Refleksi :

Apakah hidupku masih terbelenggu oleh harta duniawi dan kenikmatan jasmani saja?

  

Marilah kita berdoa:

Ya Bapa, jauhkanlah kami dari keinginan yang tidak teratur akan mementingkan diri sendiri, menumpuk harta duniawi dan mencari kenikmatan semu belaka. Bantulah kami selalu siap berbagi dengan sesama kami dan mensyukuri anugerahMu. Doa ini kami panjatkan dalam nama Yesus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.

 

LUMEN NO     :  9249