Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

PERBUATAN

(Matius 7:21 & 24)

Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan Dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana,....

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Adakah orang yang tidak mau masuk Kerajaan Sorga? Rasanya tidak ada! Dalam hidup sehari-hari, Kerajaan Sorga dialami saat hati merasa bahagia-damai-tenteram. Semua orang ingin bahagia, tapi kebanyakan orang justru mengalami kebalikannya. Kita sering merasa senang saat keinginan terpenuhi, sebentar kemudian hati kita kembali gelisah dan mencari-cari hal lain agar dapat gembira lagi. Bak kutu loncat, kita melompat-lompat, dari satu objek kesenangan ke objek kesenangan lain. Lambat laun, kita pun jemu, dan merindukan kebahagiaan sejati. Saat itulah perhatian kita baru sungguh-sungguh terarah penuh kepada Kekuatan Hidup yang lebih tinggi, Sang Penguasa Hidup, yakni Tuhan. Hati kita berseru: "Tuhan! Tuhan!" Semua masalah kita tumpahkan. Selesai berdoa, kita merasa lega. Tapi... beberapa saat kemudian, kegelisahan lagi-lagi datang dan mendorong kita untuk kembali mencari-cari kesenangan. Hidup kita seperti terjebak dalam lingkaran hampa!               

Saudara-saudari terkasih.

Yesus berkata: Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan Dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. Kuncinya adalah "Melakukan". Apa yang perlu kita lakukan untuk mengalami Kerajaan Sorga dalam kehidupan sehari-hari? Darimana kita tahu bahwa kita sudah melakukan kehendak Bapa saat ini, atau masih mengikuti kemauan sendiri? Secara sederhana, Ignasius Loyola menunjukkan petanya. Pertama-tama, tujuan atau pusat kita harus jelas, yakni Allah saja, lalu mengakui, bahwa hidup kita saat ini masih belum berpusat atau tertuju penuh kepada Allah saja. Selanjutnya kita memohon rahmat kepada Allah agar kita dapat (1)bertobat, (2)mengikuti panggilanNya, (3)tahan menanggung konsekuensi menderita sebagai pengikutNya, dan (4)tercukupi oleh penghiburanNya.           

Saudara-saudari terkasih.

Ignasius Loyola menuliskan rincian peta berdasarkan pengalaman pribadinya. Kumpulan tulisan tersebut kemudian dibukukan menjadi buku "Latihan Rohani" yang dapat diikuti oleh siapa saja yang hendak melepaskan diri dari kelekatan dan hawa nafsu tidak teratur, sehingga kemudian hatinya tenteram, dan hidup dalam Kerajaan Sorga setiap hari. Ada seorang ibu yang mempraktikkan "Latihan Rohani Ignasian" ini dalam rangka melepaskan diri dari kelekatan seksualitas atau jatuh cinta tidak pada tempatnya. Ada seorang ibu yang melekat pada memori akan mantan kekasihnya selama belasan tahun. Manakala beban hidup berat, kenangan indah dengan mantan kekasihnya tersebut kerap muncul menghibur, sehingga ibu sejenak terlupa akan beban berat hidupnya. Ibu tahu, bahwa perilakunya keliru. Ibu mau, fokus penuh hanya pada keluarganya saja. Ibu berupaya keras agar perhatiannya terjaga utuh dan keinginannya tidak terpecah pada mantan kekasihnya. Ibu mengalami jatuh bangun dan merasa lelah. Ia mengharapkan pertolongan Tuhan, karena sendirian tak kunjung tuntas.                                               

Saudara-saudari terkasih.

Tak lama kemudian, ibu berjumpa dengan kawan lama. Kawan lama berlaku ramah dan baik hati. Kesusahan batin ibu terhibur oleh perlakuan kawan lama. Ia tidak lagi melekat pada mantan kekasihnya, tapi tertambat pada kawan lamanya. Dulu, ibu haus, dan kehausannya terisi oleh memori. Kini, ibu tidak lagi haus, karena kehausannya dipenuhi secara nyata. Namun ibu tetap merasa ini perlu disudahi. Hanya kini, langkah ibu melepaskan kelekatan dengan kawan lama bukan dengan memaksakan kekuatannya sendiri, melainkan dituntun lembut oleh Hati Kecil dan bersandar pada penyelenggaraan Ilahi, melalui praktik Latihan Rohani Ignasian. Apa yang dilakukan Ibu? Manakala memori atau kerinduan datang, ibu sadar, bahwa ia sedang ingin diutamakan, lalu menundukkan hati kepada Allah, minta ampun, karena dirinya ingin diutamakan oleh sesama, bukan mengutamakan Allah bersama sesama. Manakala peristiwa hidup terasa berat membebani, ibu sadar, bahwa ia sedang menginginkan hal lain, bukannya menghormati dan mensyukuri penuh pemberian Allah saat ini, lalu minta ampun, dan menghidupi berkat di hadapan.           

  

REFLEKSI:

Apa yang saya lakukan? Bagaimana saya menuruti kehendak Bapa, sekarang? 

 

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, terima kasih atas FirmanMu hari ini. Terangilah kami, agar dapat memahami pesanMu yang baru saja kami dengar. Beri kami rahmat, untuk dapat menjalankan pesanMu itu sepanjang hari ini. Ijinkan kami, dan bantulah kami agar bertahan dalam proses sampai menjumpaiMu. Amin.

 

LUMEN NO     :  9255