Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

RENDAH HATI

(Lukas 1: 28 - 29 & 38)

...“Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”. Maria terkejut mendengar perkataan malaikat itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata Maria kemudian: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. ....

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Bila di hadapan kita sekarang, ada seorang malaikat berkata kepada kita: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau", bagaimanakah reaksi kita? Mungkin kita akan terkejut juga seperti Maria. Hati kita mungkin merasa senang, sementara pikiran kita bertanya mengenai maksud perkataan malaikat tersebut. Siapa yang tidak senang, dikatakan sebagai orang yang dikaruniai dan disertai Tuhan? Menerima penilaian positif dari pihak lain sering kali membuat kita merasa senang. Apakah Maria juga merasa senang? Tidak dinyatakan demikian. Hati Maria bertanya. Maria mungkin merasa bingung. Ia tidak menganggap dirinya sendiri adalah pribadi yang dikaruniai dan ditemani oleh Tuhan secara khusus. Ia tidak menilai dirinya spesial. Oleh karena itu, ia tidak merasa sudah sepatutnya salam tersebut diberikan kepadanya.                        

Saudara-saudari terkasih.

Sikap rendah hati juga ditunjukkan Maria saat malaikat menyampaikan pesan bahwa ia akan mengandung. Maria bertanya bagaimana mungkin hal itu terjadi karena ia belum bersuami. Malaikat menambahkan berita bahwa Elisabet, saudara Maria yang mandul dan sudah tua, sedang mengandung bulan keenam, lalu menegaskan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Hati Maria tunduk dan ia menjawab: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu". Maria pasrah dan menerima penuh apa yang diberikan Allah kepadanya. Ia tidak mempertanyakan kehendak Allah, tidak meragukan serta tidak memikirkan nama baiknya atau kepentingan sendiri. Ia tidak menempatkan kehendaknya lebih utama ataupun setara, melainkan menundukkan kehendaknya di bawah kehendak Allah. Hati yang tunduk dan merendah memberi tempat bagi perwujudan kehendak Allah atasnya.           

Saudara-saudari terkasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengalami berbagai peristiwa, yang sesungguhnya merupakan berkat Tuhan. Alih-alih menerimanya sebagai hadiah istimewa, acap kali kita mengeluhkannya karena kenyataan yang kita alami tidak sesuai dengan harapan yang kita inginkan. Hampir setiap kita mengharapkan yang baik menurut standar pikiran manusia dan sebaliknya juga cenderung langsung menolak derita. Tanpa sadar, pikiran dan kehendak kita lalu menghakimi berkat Tuhan sebagai bahagia dan derita. Yang menyenangkan kita syukuri, sementara yang tidak mengenakkan kita keluhkesahkan. Seorang pendosa yang baru saja bertobat, acap kali masih menyesalkan mengapa ia bisa lalai dan terjerumus dosa. Ada bagian dirinya yang masih ia tolak atau ingin ia hilangkan. Kalau bisa, ia ingin lupa atau menghapus sisi gelap tersebut dari hidupnya. Meski hati kecilnya sadar bahwa jujur mengakui hasrat pribadi, hingga berani melanggar aturan untuk menyalurkannya, kemudian menuntunnya secara alami menuju pertobatan sejati.              

Saudara-saudari terkasih.

Kebanyakan kita sering kali tidak sabar dengan proses jatuh bangun dalam memperbaiki kelakuan. Kita maunya cepat berhasil dan menolak kegagalan. Kita mungkin terlalu tinggi hati, menilai diri sendiri tidak sepatutnya mengalami kejatuhan, dan menempatkan diri sendiri di atas atau inginnya yang bernilai baik saja. Berpusat pada pemikiran dan kehendak sendiri merupakan akar dosa yang sesungguhnya, karena tanpa sadar kita tidak menghormati kuasa Allah yang terberi di hadapan kita. Sebaliknya, kita menentang kuasa Allah tersebut dengan memaksakan dan mengikuti pikiran-kehendak sendiri. Lebih baik mengakuinya .Pengakuan dosa secara tegas akan mengarahkan kita kembali meneruskan upaya perbaikan. Sebaliknya, penolakan dosa akan melemahkan daya perbaikan. Apapun yang terjadi, baiklah hati kita tunduk merendah dan berkata seperti Maria: "sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendakMu".   

  

REFLEKSI:

Maukah hatiku tunduk merendah selalu? 

  

MARILAH KITA BERDOA:

Bunda Maria, terima kasih, atas teladan hidupMu yang rendah hati. Terima kasih, Engkau setia menemani kami, meski kami sering kali lupa dan tidak memperhatikan kehadiranMu di sisi kami. Ya Allah, sesungguhnya aku ini hambaMu, terjadilah padaku selalu menurut kehendakMu. Demi Kristus Tuhan kami. Amin.

 

LUMEN NO     :  9256