Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

GURU, DI MANAKAH ENGKAU TINGGAL?

(Yohanes 1:39)

Yesus bersabda: "Marilah dan kamu akan melihatnya.

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin,

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."

Saudara-saudari terkasih.

Seringkali kita bertemu dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali. Pada umumnya ketika berpapasan kita melewatinya saja. Tidak ada tatapan mata, senyum kecil di bibir, apalagi melayangkan sebuah pertanyaan sehari-hari. Dia adalah orang lain sama seperti ribuan orang lain yang berpapasan dengan kita di berbagai tempat dan untuk berbagai keperluan. Kadang-kadang orang yang sedang bersama kita mengenalnya dan memperkenalkan diri kita kepadanya atau kita sendiri memang mengenal orang tersebut. Suasana akan menjadi berbeda. Jika kita hanya mengenal sekilas, mungkin hanya anggukan kepala saja sudah cukup. Jika kita berteman di tempat kerja atau bertetangga di rumah, kita akan berhenti dan mengajak bicara orang tersebut. Jika orang tersebut adalah saudara dekat, kita mungkin akan mengajaknya mengobrol sambil makan mie ayam di sebuah warung. Topiknya terutama adalah kabar keluarga, kesehatan, sekolah anak-anak. Satu mangkuk mie ayam nampaknya tidak cukup, sehingga seringkali harus berpindah ke tempat makan lain untuk melanjutkan pertemuan.

Saudara-saudari terkasih.

Situasi inilah yang dialami dua orang murid Yohanes. Pada saat itu Yesus lewat. Namun, kedua murid Yohanes tidak mengenal-Nya. Yohanes sebagai sang guru yang mengenal Yesus berkewajiban memperkenalkan Yesus kepada kedua muridnya itu. Cara Yohanes memperkenalkan Yesus sungguh istimewa. Yohanes tidak memakai kalimat penjelasan yang bertele-tele. Dengan kalimat yang singkat tetapi tepat Yohanes langsung menyebutkan jati diri Yesus: "Lihatlah Anak Domba Allah". Dengan penyebutan Yesus sebagai Anak Domba Allah Yohanes hendak mewartakan keilahian Yesus. Dialah sang Mesias yang sudah diwartakan para nabi sejak jaman Perjanjian Lama. Dengan penyebutan Yesus sebagai Anak Domba Allah terbukalah mata iman kedua murid Yohanes tadi. Mereka segera mengikuti Yesus dan ingin tahu lebih banyak tentang Yesus. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan tentang diri Yesus. Artinya, kedua murid Yohanes tadi membuka diri  untuk mengenal dan dikenal Yesus.

Saudara-saudari terkasih.

Pertanyaan pertama yang diajukan kedua murid Yohanes kepada Yesus adalah "guru di manakah Engkau tinggal?" Pertanyaan sederhana dan sehari-hari ini sebenarnya bermakna mendalam. Pertanyaan tersebut intinya adalah tentang rumah. Setiap orang pasti memiliki rumah entah bagaimana pun ukuran, bentuk, posisi, dan kualitasnya. Bisa dikatakan bahwa jati diri seseorang adalah rumahnya. Bisa saja seseorang berada di kantornya seharian penuh, tetapi di kantor itu ia hanya bekerja mencari uang. Setelah selesai jam kerja ia akan meninggalkan kantor itu. Orang lain tidak akan mencarinya di kantor itu. Hal sebaliknya terjadi dengan rumah. Seseorang akan melakukan banyak kegiatan pribadi yang hanya bisa dilakukan di rumahnya. Surat-surat penting dan benda berharga disimpannya di rumahnya. Dengan demikian bisa dipahami mengapa kedua murid Yohanes menanyakan tempat tinggal Yesus. Mereka ingin mengenal Yesus secara pribadi. Yesus pun menjawab demikian: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Perkataan Yesus itu sebenarnya adalah sebuah undangan. Seolah-olah Yesus berkata,  "Baik, mari mampir ke rumah-Ku". Syukurlah bahwa tawaran Yesus itu ditanggapi. Merekapun melihat di mana Yesus tinggal. Dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.

 

REFLEKSI:

Apakah kita sudah mengenal Yesus?

Apakah kita sudah mengikut Yesus?

 

MARILAH KITA BERDOA:

Ya Tuhan, bukalah mata iman kami untuk mengenal-Mu dan berniat untuk mengikuti-Mu. Biarkanlah kami mengetahui di mana rumah-Mu dan ijinkanlah kami tinggal di rumah-Mu. Engkaulah Tuhan kami. Kini dan sepanjang masa.  Amin.

 

LUMEN NO     :  9293