Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

JADILAH ENGKAU TAHIR

(Markus 1:41 )

Yesus bersabda: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Saudara-saudara terkasih,

Apa yang dilakukan orang kusta pada cerita di atas sebenarnya adalah sikap yang umum yang harus dilakukan siapapun yang membutuhkan pertolongan orang lain. Kita yang membutuhkan pertolongan akan dengan rendah hati mendatangi orang yang kita mintai pertolongan. Pasti ada rasa malu meminta pertolongan, tapi juga ada dorongan kuat untuk meminta pertolongan. Kita rendahkan diri kita dengan menemui si penolong. Kita gunakan bahasa yang halus agar ucapan kita berkenan kepadanya. Kita kendalikan sikap tubuh kita sehingga terjaga sopan santun. Tujuannya hanya satu, yaitu agar yang kita temui tadi bersedia menolong kita. Inilah yang dilakukan si penderita kusta, yaitu anggota masyarakat yang paling direndahkan pada zaman Yesus, karena masyarakat percaya bahwa penderita kusta itu mendapat kutukan dari Tuhan. Bisa dibayangkan betapa penderitaan yang dialaminya. Sudah sakit jasmani, dicemooh pula oleh masyarakat. Dia pasti ingin segera lepas dari beban itu. Maka ketika mendengar ada Yesus, sang Guru yang disanjung-sanjung, si kusta bergegas ingin meminta tolong. Namun, sekali lagi ia harus berhadapan dengan rasa malu. Akankah dia diterima oleh sang Guru? Bagaimana jika ia ditolak, bahkan diusir? Namun, keinginan untuk sembuh dan dilepaskan dari beban membuatnya bertahan menemui sang Guru.

Saudara-saudara Terkasih,

Sungguh tepatlah apa yang diniatkan oleh si penderita kusta. Ia harus menemui Yesus, karena ia sudah mendengar dari orang banyak apa yang dilakukan Yesus kepada banyak. Yesus sudah menyembuhkan orang tuli, membuat orang lumpuh berjalan, membangunkan anak yang sakit parah, menghidupkan kembali Lazarus yang sudah dikubur, mengusir roh-roh jahat yang berada di tubuh orang gila, dan tentu saja Yesus sudah memperbanyak lima roti dan dua ikan. Berita-berita baik tentang Yesus dan seluruh karyanya tadi membuat si penderita kusta yakin bahwa Yesus pun akan menyembuhkan dirinya dari penyakit kusta. Ia sudah menyingkirkan rasa malunya, kekhawatirannya akan ditolak. Yang penting adalah mendapatkan kesembuhan. Dan pada Yesuslah harapan itu diletakkan. Si penderita kusta menerobos kerumunan banyak orang agar bisa berhadapan dengan Yesus. Ia berlutut di hadapan Yesus. Ia memohon bantuan kepada Yesus. Katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Respond Yesus sungguh tidak terduga. Yesus bukan hanya menerima, tetapi Ia langsung melakukan tindakan menyembuhkan dengan sabda-Nya: "Jadilah, Engkau tahir."

Saudara-saudara Terkasih,

Betul bahwa ada banyak orang yang begitu bebal hatinya, sehingga tidak peka atau bahkan menolak memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan pertolongannya, walaupun ia mampu menolong. Tentu ada banyak orang yang begitu peka dengan penderitaan orang lain. Mereka segera menolong, bahkan ketika si penderita belum menyampaikan permohonannya. Apalagi kalau sampai si penderita itu sampai menemui dan memohon. Pasti pertolongan segera disampaikan. Jika manusia saja memiliki hati yang begitu lembut dan peka, Yesus pasti lebih dari itu semua. Memakai istilah yang sering dipakai "berikan kail, bukan ikannya", Yesus tidak hanya membelikan kail, ataupun ikan. Yesus memberikan ketuntasan atas semua masalah yang diderita si pemohon. Pada peristiwa si penderita kusta di atas, Yesus tidak hanya menyembuhkan penyakit kustanya, ia juga mentahirkan dia. Artinya, ia terbebas dari tuntutan beban budaya masyarakat Yahudi. Ia dilepaskan dari kutukan Tuhan, karena Yesus adalah Allah Putra. Siapakah manusia  yang tidak bersyukur karena telah ditolong. Demikian juga dengan si penderita kusta. Ia memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana. Si penderita kusta sudah menyebarkan kabar baik tentang keselamatan yang dibawa Yesus.

 

REFLEKSI

Sudahkan kita berkehendak datang kepada Yesus untuk menyembuhkan penyakit

Jasmani dan rohani kita?

  

MARILAH KITA BERDOA

Ya Tuhan, begitu banyak penyakit jasmani dan rohani yang kami panggul. Lepaskanlah salib tersebut dari pundak kami agar selamatlah hidup kami. Engkaulah sang Penyembuh Demi Kristus Tuhan kami.

 

LUMEN NO     :  9290