Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

HARI RABU ABU

(Matius 6 : 1)

Yesus bersabda: Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.      

Kita memasuki Masa Prapaskah dengan menerima salib abu di dahi kita. Sebuah tradisi yang sangat kaya dengan makna. Inilah masa puasa, masa bertobat, masa bebenah diri agar semakin berkenan kepada Tuhan. Dalam masa Prapaskah ini kita dibantu oleh tiga pilar yang akan mengarahkan kita kepada pertobatan sejati.Ketiga pilar itu adalah: sedekah, doa dan puasa. Inilah ketiga kegiatan lahir namun bermakna rohani. Oleh sebab itulah Yesus mengingatkan kita agar puasa tidak dilakukan sebagai kewajiban supaya dilihat orang. Sedekah sebagai kesempatan untuk berbagi berkat kepada orang lain yang membutuhkan. Sebagai usaha membuka hati pada orang lain, memperhatikan orang lain. Doa untuk mengeratkan relasi dengan Tuhan. Puasa, menjadi sikap menata raga sendiri dari kecenderungan dan kenikmatan manusiawi. Setiap pribadi diharapkan menentukan sendiri yang perlu dilakukan agar terjadi per baikan  hidup, agar terjadi pertobatan.

Saudara-saudari terkasih.

Masa Prapaskah selalu mengingatkan kita pada pantang dan puasa. Selain itu juga tobat dan derma. Dalam keadaan perut lapar, biasanya kita lebih peka untuk melepaskan segala kehebatan kita, kemudian ikut merasakan kesulitan dan kesusahan orang lain. Kita berusaha keluar dari kepentingan diri kita sendiri, kemudian berusaha masuk pada penderitaan orang lain. Pertobatan tidak berhenti sampai pada ikut merasakan penderitaan orang lain, meski pun itu hanya rasa lapar atau haus; namun kita perlu ikut merasakan kesusahan orang lain. Pada Masa Prapaskah ini kita perlu bersikap lebih bijak dan hidup lebih saleh. Saya jadi teringat pada kata-kata Uskup yang menahbiskan Imam Santo Yohanes Maria Vianney: "Tuhan tidak membutuhkan orang pandai, melainkan Tuhan membutuhkan orang saleh." Betapa kata-kata Uskup itu sangat menguatkan tekad Yohanes Maria Vianney, yang pada waktu ingin masuk Seminari tetapi ditolak ayahnya.  Ayahnya khawatir, karena ia bodoh nanti tidak

bisa mengikuti pendidikan di Seminari.             

Saudara-saudari terkasih.

Mari kita memasuki Masa Prapaskah ini dengan penuh sukacita. Berdoa lebih banyak, bermatiraga dengan berpantang dan berpuasa serta berderma dengan lebih sungguh.  Dan satu hal lagi memasuki Masa Prapaskah, Masa Puasa ini dengan penuh sukacita dan kesungguhan. Bila pada tahun-tahun yang telah lalu kita selalu gagal menjalani pantang pdan puasa, karena kita kurang seius. Maka tahun ini marilah kita canangkan tekad pada diri kita untuk lebih serius, dengan didasari tekad dan semangat tidak mau gagal lagi berpantang dan berpuasa. Kita tidak mau gagal lagi, kita mau lebih sungguh lagi berpantang dan berpuasa. Dan kita berharap serta memohon agar Bapa sendiri yang akan membalas kita dengan rahmat berkat dan karuniaNya. Dan rahmat, berkat serta anugerah Allah itu kita bagikan kepada sesama kita. Meski mungkin hanya sedikit saja, namun itu masih lebih baik dari pada tidak sama sekali. Pertobatan tidak berhenti hanya sampai pada ikut merasakan lapar dan haus, tertapi lebih pada aksi berbagi atau berderma dari yang kita miliki. Pertobatan bukan saja berhenti berbuat dosa, melainkan sampai pada perubahan hidup.

Saudara-saudari terkasih.

Pada Hari Rabu Abu, kita menerima salib abu di dahi, atau di kening kita. Imam atau Prodiakon Paroki sambil membubuhkan abu, mengucapkan kalimat: "Bertobatlah dan percayalah pada Injil." Umat menjawab: "Amin".  Pernah suatu kali, pada hari Rabu Abu, kami bertugas menjadi Prodiakon, saya diserahi abu di lepek oleh Imam dan diminta agar membubuhkan abu di dahi beliau. Saya merasa tak layak, namun karena Romo sendiri yang menyuruh maka saya pun memberikan tanda salib abu di dahi Romo dan mengatakan: "Bertobatlah dfan percayalah pada Injil." Romo menjawab: "Amin." Pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan selama hidup saya. Menerimakan abu pada Imam. Inilah bentuk kerendahan hati seorang gembala umat Paroki. Menerima salib abu dari umat parokinya, yang diangkatnya sendiri menjadi pelayan dalam perayaan liturgi. Saya sungguh bahagia dan sungguh bersukacita karena pengalaman rohani itu.

 

REFLEKSI:

Apakah kita menyadari, bahwa pantang dan puasa adalah waktu untuk men dekatkan diri pada Tuhan dan sesama?

  

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk mempunyai semangat pertobatan dalam sikap dan tindakan kami. Terhadap Engkau namun juga pada sesama kami. Jadikanlah kami pembawa berkatMu pada sesama kami yang memerlukannya, karena mereka hidup dalam kususahan, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam nanaMu yang Kudus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

 

LUMEN NO     :  9324