Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

KESAKSIAN YOHANES TENTANG YESUS

(Yohanes 3 : 36.)

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus.

Yohanes menjawab pertanyaan murid-muridnya tentang Yesus. Dia menjelaskan bahwa Yesus memberi kesaksian mengenai kebenaran dari Allah, tetapi tidak seorang pun menerima kesaksianNya. Sebagai Utusan Allah, Yesus sendirilah yang mewar takan tentang Allah, Dialah Putera Allah. Sebab itu Allah begitu mengasihiNya dan menyerahkan segala sesuatu kepadaNya. Dengan penuh rendah hati, Yohanes mengatakan kepada murid-muridnya bahwa barangsiapa percaya kepada Yesus, beroleh hidup yang kekal. Tetapi barang siapa tidak percaya, tidak taat kepada Yesus, tidak akan memperoleh hidup yang kekal. Yohanes dengan rendah hati mengajak murid-muridnya supaya percaya kepada Yesus Kristus. Yohanes juga memberi kesak sian bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat. Bagaimanakah dengan kita  "umat Kristiani" murid dan pengikut Yesus Kristus di jaman ini? Apakah kita percaya kepada Yesus sebagai Putera Allah dan Juru Selamat kita? Ada baiknya kita renungkan, ajakan  Yohanes Pembaptis ini.

Saudara-saudari terkasih.

Banyak orang yang mengikuti Yesus, tapi tidak konsekwen dengan yang diikutinya. Mereka hanya taat pada hal-hal yang menguntungkan dan dalam banyak hal tidak taat pada Tuhan Yesus. Ketaatan adalah sebuah perjuangan yang terus menerus harus diusahakan, ketaatan akan berbuah ketekunan, ketekunan akan berbuah iman dan iman yang dewasa dan yang masak  akan mengasilkan banyak buah-buah rohani, buah-buah kebaikan dalam hidup ini. Kita mengajarkan kepada anak-anak kita serta anak-anak didik kita agar taat pada Tuhan, orangtua serta bapak-ibu guru. Tetapi kita sendiri sering melanggar yang kita ajarkan pada anak-anak kita serta anak didik kita. Kita gemar melanggar perintah Tuhan. Tuhan Yesus dengan tegas dan keras meng ingatkan pada kita: "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal. Tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."

Saudara-saudari terkasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang terjadi perbedaan, bahkan pertentangan antara kehendak Allah dan kehendak manusia. Misalnya kita menghadapi pemimpin yang melakukan penyimpangan atau korupsi. Terkait dengan hal ini, Santo Petrus berpesan: "Demi Allah, tunduklah kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi." Tetapi kalau raja  itu jahat, kita harus menentukan pilihan: kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Konflik antara kehendak Allah dan kehendak manusia juga sering terjadi dalam diri kita, yakni dalam konflik antara kemauan kita dan suara hati. Tidak jarang kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah yang dinyatakan dalam suara hati. Di sini pun kita harus menjawab tegas: "Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Contoh: Hari Minggu ada kewajiban bagi orang Katolik untuk merayakan Ekaristi di gereja. Tetapi pada hari itu juga, di "kantor" mengadakan kegiatan jalan sehat bersama. Dari pimpinan sampai karyawan-karyawati harus ikut. Bagi yang tidak ikut, akan dikenai sangsi. Maka karyawan itu memilih ikut jalan santai dan akibatnya karyawan itu tidak merayakan "Ekaristi" di gereja.              

Saudara-saudari terkasih.

Konsekwensi kita sebagai orang tua sekaligus guru, kita mempunyai tugas ganda. Kita harus memberi contoh atau teladan hidup yang baik bagi anak-anak kita; sekaligus sebagai pendidik yang baik; kita mesti memberikan contoh atau teladan dalam hal kejujuran serta teladan dari yang pernah kita ucapkan. Misalnya saja, orangtua, ayah dan ibunya mengatakan berdoa sebelum makan, apakah mereka sendiri juga berdoa sebelum makan? Harus rajin belajar, rajin mengerjakan PR dan baik-baik merawat alat sekolah. Apakah ayah dan ibu sendiri juga memberi contoh yang baik rajin menger jakan tugas sehari-hari di keluarga? Apakah ayah dan ibu sendiri setiap hari Minggu ke gereja merayakan Ekaristi? Sebagai pendidik bagi anak-anak, apakah kita sudah memberikan contoh bersikap jujur: tidak menyontek, tidak mengambil pensil, peng hapus dan serutan milik teman.

REFLEKSI:

Sudahkah kita bukan saja memberi nasehat, tetapi sudah pula memberi teladan  hidup yang baik bagi anak-anak kita?

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, syukur dan terimakasih, hari ini Engkau mengingatkan kami untuk percaya dan taat kepadaMu. Berilah kami hati seorang hamba, yang siap mentaati  perintah dan kehendakMu, karena kehendak dan perintahMu untuk kebaikan dan keselamnatan kami, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam namaMu, Tuhan dan Juruselamat kami, Amin.

 

 

 

LUMEN NO     :  9381