Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

DIA BENAR-BENAR NABI

(Yohanes 6 : 14)

Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakanNya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.“

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Kisah mengenai penggadaan roti yang diadakan Yesus, sungguh membuka mata semua orang akan siapakah diri Yesus itu. Namun Yesus tidak ingin orang banyak itu hanya berhenti pada rasa kagum terhadap peristiwa penggandaan itu, atau pada rotinya saja, mereka diajak untuk masuk lebih dalam. Yesus melakukan penggandaan itu di dalam doanya, Ini tanda yang luar biasa bahwa kekuatan ilahilah yang memungkinkan itu dan dalam kuasa Allah sendiri. Dengan roti yang melimpah itu menjadi nyata bahwa kasih Allah sungguh nyata melalui Yesus PuteraNya. Inilah pesan utama yang mau disampaikan dalam peristiwa penggandaan roti ini. Bahkan kasih Allah yang nyata itu ada di dalam diri Yesus sendiri. Berkat Allah disalurkan oleh Yesus kepada semua orang supaya mereka mengalami kasih dan kebaikan Allah sehingga mereka semakin menyadari kebaikan Allah. Yesus ingin menghantar mereka menuju kepada diriNya sendiri.

Saudara-saudari terkasih.

Yesus mengingatkan mereka agar tidak berhenti pada makanan jasmani dan mengagumiNya saja. Melainkan mereka harus sampai mensyukurinya dan meman dang Yesus, Sang Pemberinya. Kita pun diingatkan oleh Yesus agar selalu meman dang Dia Sang Pemberi kehidupan. Janganlah kita selalu mengarahkan hidup kita pada hal-hal lahiriah dan jasmaniah; sehingga mengabaikan yang rohaniah, yang utama dalam kehidupan kita. Inilah saatnya untuk menyadarinya dan mengarahkan hidup kita kepada Yesus. Kita bersyukur akan banyaknya rahmat yang kita terima sampai hari ini. Ada baiknya kita masuk dalam keheningan doa, kita sediakan waktu yang hening, kita menghadap Tuhan, kita buka hati, pikiran, mata serta telinga batin kita. Kita sadari, bahwa Dialah sang kehidupan itu. Dan setiap makanan yang kita terima itu adalah anugerah dari Allah. Dan kita bisa menikmatinya, itu pun juga karena kebaikan  Allah. Banyak orang kaya, mereka mempunyai banyak harta, bisa membeli apa saja, namun mereka tidak bisa menikmati hartanya karena tubuhnya sakit,  harus "nyirik" jenis makanan tertentu.

Saudara-saudari terkasih.

Pada suatu hari, Yesus pergi ke tepi danau Tiberias. Di tempat ini Yesus mengajar orang banyak yang mengikutiNya, agar percaya bahwa DiriNya adalah Allah. Mukjizat lima roti dan dua ikan terjadi untuk memenuhi kebutuhan makan lima ribu orang laki-laki, berlum termasuk perempouan dan anak-anak. Mereka menyaksikan keajaiban pekerjaan Tuhan Yesus. Mereka mengatakan: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke daam dunia."Namun komentar yang baik ini tidak diikuti dengan kemurnian dan ketulusan hati. Seharusnya mereka itu menyembah Yesus yang telah hadir, bukan untuk menjadikanNya Raja. Secara pribadi, Filipus dan Andreas menyaksiakan langsung perbuatan kuasa atau mukjizat ini. Seharusnya mereka memiliki pengalaman pengenalan lebih mendalam dengan Tuhan Yesus. Mestinya pula mereka bisa menjawab pertnyaan Yesus: "Di mana kita akan mem,beli roti sehingga mereka dapat makan?" Jangan menjawab: "Roti seharga dua ratus dinar tidak cukup untuk mereka." Mereka mau menghindar, mencari aman dan menilai itu bukan urusan mereka. Itu urusan Yesus sendiri.   

Saudara-saudari terkasih.

Ada seorang anak yang membawa lima roti dan dua ikan. Lalu dimintanya lima roti dan dua ikan itu, kemudian diserahkan kepada Tuhan Yesus. Rupanya ketika orang diminta menolong orang lain, lebih suka melempar tugas itu pada orang lain, mereka tidak mau berkorban, tidak mau berbagi kasih dan milik. Mereka tidak berani menawarkan sesuatu bagi orang lain. Yesus tidak menghendaki para murid beriskap dan bermental seperti itu. Yesus menghendaki agar para murid bertanggungjawab pada nasib sesamanya, yang lapar, yang hus, yang menderita, yang perlu dibantu. Yesus ingin kita seperti anak kecil itu, merelakan lima roti serta dua ikan miliknya untuk kepentingan banyak orang. Memberi bukan soal banyak atau sedikit, tetapi soal kerelaan, soal ketulusan. Semestinya kita malu, yang seorang anak kecil saja bisa berbagi, kenapa kita yang sudah besar, kita yang sudah dewasa, malah yang sudah tua kok malah tidak bisa berbagi pada orang lain?  

REFLEKSI:

Apakah selama ini kita benar-benar percaya kepada Yesus dan mengimani Yesus Putera Allah yang murah hati?

MARILAH KITA BERDOA:  

Tuhan Yesus Kristus, di masa Prapaskah ini kami berniat meningkatkan iman serta kepercayaan kami kepadaMu, dengan lebih nyata, tekun dan setia mengungkapkan itu dalam berbagi kasih serta milik pada sesama kami dan orang-orang yang ada di sekitar kami, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam namaMu yang Kudus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.

 

 

 

LUMEN NO     :  9382