Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

TUHAN BERILAH KAMI ROTI ITU

(Yohanes 6 : 34.)

Kata mereka kepadaNya: “Tuhan berilah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.”

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Bagi orang Israel, seperti bagi orang Eropa, roti adalah kehidupan. Sebagaimana halnya nasi bagi orang Indonesia. Roti adalah rejeki, begitu disebutkan dalam doa Bapa Kami. Dalam kata rejeki bukan hanya nasi, tetapi juga makanan pokok lain: sagu, jagung, singkong, pisang dan sebagainya. Termasuk pula lauk-pauknya: ikan, daging, telur dan sayur. Jadi dalam pengertian rejeki berarti komplit, lengkap makanan pokok plus lauk-pauknya. Maka jika Tuhan Yesus mengatakan: "Akulah roti hidup." Maka ini berarti Ia adalah  "santapan komplit."  Rejeki yang lengkap "tidak dapat tidak" harus ada untuk hidup. Dan Yesus membedakan diriNya dengan manna, yakni roti yang turun dari langit di padang gurun menjadi santapan hidup bagi bangsa Israel dalam perjalanan  menuju Tanah Terjanji. Perkataan Yesus "Akulah Roti Hidup" diteguhkan kembali pada perjamuan terakhir Yesus berkata: "Inilah TubuhKu." Hal ini hendak menyatakan bahwa roti yang dikorbankan, dikuduskan, dipecah-pecahkan dan dibagikan itu, demi pengam punan dosa dan hidup kekal.

Saudara-saudari terkasih.

Inilah dasar iman kita, Iman Katolik. Bahwa Yesus sungguh hadir dalam Perayaaan Ekaristi, Sakramen Ekaristi, Komuni Suci, Hosti Suci Tubuh Kristus dan Darah Kristus. Benarlah jika Yesus sendiri mengatakan" Inilah TubuhKu" sambil memegang roti, siapa dapat mengatakan bahwa  itu "hanya roti belaka atau roti biasa saja. Tidak bedanya dengan roti yang dijual di toko roti atau di warung. Menyambut dan menerima Tuhan sendiri. Kita lalu menjadi seperti apa yang kita "santap", menjadi orang yang "dihuni" Tuhan, menjadi kediaman Yesus. Kita menjadi tabernakel, kita menjadi almari suci tempat menyimpan Tubuh Kristus. Maka dari itu janganlah kita kotori tubuh kita, kita nodai, kita cemarkan tubuh kita dan kita redahkan harkat dan martabat kita dengan dosa, kejahatan serta kesalahan kita.Tetapi kita jaga, kita jadikan diri kita kudus, suci dan bersih dari dosa, kehatan dan kesalahan. Agar kita layak dan pantas sebagi tabernakel hidup Tubuh Kristus.

Saudara-saudari terkasih.

Sebagai manusia normal, perkembangan dan kondisi iman kita sering sangat tergantung pada hal-hal lahiriah seperti harta kekayaan, kesuksesan, kedudukan dan kekuasaan. Itulah sebabnya kita sering mengukur berkat Tuhan sesuai besaran kesuksesan yang kita alami di dunia ini. Sama seperti orang Yahudi di jaman Yesus dulu, "berkat Tuhan" terlihat dalam hal kesejahteraan jasmani seperti tersedianya "manna" atau "makanan." Kita murid dan pengikut Kristus, bukan lagi insan "duniawi" tetapi sudah menjadi "insan illahi", bukan saja "jasmani" tetapi juga "rohani." Karena kita sudah dibaptis, kita diangkat menjadi anak-anak Allah serta saudara dan saudari Yesus. Sebagai yang rohani, maka ukuran kesuksesan dan kebahagiaan kita bukan lagi "manna" atau makanan, tetapi yang rohani, yang ilahi, yang dirumuskan Yesus: "Roti Hidup." Roti hidup itu adalah Yesus sendiri yang hadir dalam kurban Ekaristi, tetapi lebih dari itu, roti hidup itu bisa juga berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan kebahagiaan manusia. Yesus meminta agar para murid dan pengikutNya rajin "menerima"  Tubuh dan DarahNya.  

Saudara-saudari terkasih.

Pernah terjadi dalam pendalaman iman di lingkungan. Seorang bapak berbagi pengalaman rohani. Dia mengatakan tidak bisa melihat secara iman dan kepercayaannya, bahwa hosti, yang diangkat Imam pada waktu konsekrasi itu "Tubuh Kristus". Dan ini telah terjadi sejak ia dibaptis dewasa dan menerima Komuni Pertama. Matanya selalu terhalang oleh perasaan yang belum bisa melihat secara rohani, secara ilahi bahwa roti putih yang diangkat Imam pada waktu konsekrasi itu adalah Tubuh Kristus. Sebagai pemandu dalam pendalaman iman itu, kami pun menanyakan kepada yang lain, apakah juga punya pengalaman yang sama? Dan ternyata sebagian besar peserta pendalaman iman mengakui dan menjawab yang sama. Belum bisa menghayati iman yang sama, bahwa roti putih itu adalah Tubuh Kristus. Dengan jujur dan terus terang, saya pun harus juga mengakui yang sama. Saya memiliki pengala man yang sama dengan mereka.

REFLEKSI:

Apakah selama ini kita sudah lebih memprioritaskan makanan ilahi, rohani lebih dari pada yang duniawi, jasmani?

MARILAH KITA BERDOA:

Ya Allah, ya Bapa kami yang di sorga; bantulah kami selalu agar mampu mem prior- itaskan kebutuhan-kebutuhan rohani daripada kebutuhan-kebutuhan jasmani se-mata-mata; sehingga kami semakin bisa membahagiakan Engkau, sesama dan diri kami sendiri, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam namaMu, yang Kudus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

  

  

  

  

  

  

  

-

 

LUMEN NO     :  9386