Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

MEMULIAKAN ALLAH

(Matius 5: 14 & 16)

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Apapun dosa yang sudah kita lakukan, selemah apapun kemampuan kita, jiwa kita tetaplah terang dunia. Maka meski dihadang aneka halangan, cahaya kita selalu memancar dan kelihatan. Yesus berpesan, hendaknya terang kita bercahaya di depan orang, supaya sesama tersentuh oleh perbuatan baik yang kita lakukan dan kemudian spontan memuliakan Bapa di sorga. Pesan Yesus ini setidaknya mengandung tiga hal. Pertama, cahaya terang kita menggugah hati sesama. Kedua, cahaya terang kita  berasal dari kekuatan Bapa. Ketiga, sikap kita tunduk dan rendah hati, bukannya congkak bermegah diri.        

Saudara-saudari terkasih.

Bila terang adalah kesejatian kita, bagaimana kita sendiri sulit merasakannya? Sebagian kita terikat pada dosa berulang sampai berbuat dosa menjadi kebiasaan yang dianggap wajar. Sebagian kita ada juga yang berusaha putih bersih bersinar, namun manakala dipuji, kita merasa bangga dengan pujian, lupa bahwa pujian tersebut sebenarnya diperuntukkan bagi Bapa, Sang Sumber segala. Baik kondisi terikat dosa berulang maupun kondisi bermegah atas pujian orang merupakan kabut yang menghalangi pancaran cahaya dari Allah. Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Yesus telah memberi petunjuk sederhana. Satu, hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik.  Dua, jiwa kita tunduk merendah sehingga melihat perbuatan kita akan spontan mendorong sesama untuk memuliakan Bapamu yang di sorga. Kedua petunjuk inilah yang perlu kita lakukan setiap saat. Menyesali dosa dan kesombongan.                   

Saudara-saudari terkasih.

Seorang pemimpin yang melayani menciptakan iklim kerja kondusif dan menyenangkan. Hanya saja, kepemimpinan di kantor sering kali lebih mudah dilakukan daripada di rumah. Di  kantor, ia sabar menyimak anak buah, anak buah merasa aman dan hormat taat kepada atasan. Di rumah, ia lelah dan sulit memenuhi semua permintaan anak-anaknya. Ia merasa tidak dapat mengendalikan kondisi di rumah meski di kantor ia memimpin ratusan orang. Hal ini tentu saja menimbulkan frustrasi. Ia jadi merasa tegang dan tidak nyaman di rumah. Ia mudah marah dan merasa bersalah kepada anak-anaknya. Alih-alih diam bertobat secara tanak, ia cenderung langsung mengambil tindakan, yakni mengurangi interaksi di rumah dalam rangka menghindari konflik. Caranya antara lain dengan sibuk bekerja hingga pulang larut malam, atau melakukan rekreasi pribadi: baca koran sendiri, main game sendiri.

Saudara-saudari terkasih.

Kondisi tidak sempurna seperti itu sering kita nilai sebagai masalah. Terang masih tertutup kabut. Batin kita tidak tenang dan tenteram. Agar dapat melangkah secara tepat, kita perlu diam menunda langkah. Diam akan meredakan gelisah dan ketegangan. Pikiran kita lebih leluasa mencari jalan keluar. Fokus utama adalah fakta dan data. Kegairahan berpikir dan memecahkan masalah menuntun langkah kita bijak. Hasilnya baik, Puji syukur kepada Allah. Rahmat Roh Kudus telah bekerja dalam tindakan kita. Jadi sebetulnya mengisi hidup dan mengatasi masalahnya itu sederhana saja. Menurut Thomas Kempis, semakin kita tunduk dan rendah hati di hadapan Allah, semakin tenang dan tenteram batin kita, semakin mudah kita mengikuti  tuntunan Allah, semakin bermanfaat perbuatan kita, semakin penuh syukur batin kita, maka Allah pun semakin dimuliakan.      

            

REFLEKSI:

Bukankah tujuan manusia hidup adalah memuliakan Allah? Bagaimana  kita mengingat tujuan itu dalam beraktivitas sepanjang hari? 

 

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, terima kasih atas FirmanMu hari ini. Dalam satu hari saja, kami berulang kali lalai mempraktikkan pesanMu. Tuntun kami mengakui dan bertobat secara sesuai. Arahkan kami selalu kembali mengikuti petunjuk  hidupMu. Bantu kami untuk  diam dan  mengapresiasi ojektivitas di hadapan. Beri kami rahmat untuk memuliakan namaMu selalu. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.  

 

LUMEN NO     :  9442