Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

BERDAMAI

(Matius 5: 25 - 26)

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, ... dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya engkau tak akan ke luar dari sana sebelum kau bayar hutangmu sampai lunas.

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Perasaan apa yang muncul saat kita menyimak Firman barusan? Takut? Bagaimana bila lawan membalas dendam? Kuatkah kita menanggung akibat? Ingin lari bersembunyi? Berusaha menghindar dan terbebas dari konsekuensi? Atau... ada perasaan lega? Muncul harapan melihat peluang solusi? Ingin segera berusaha menyelesaikannya? Yesus menganjurkan agar kita memilih ini. Yesus mengajak kita untuk segera berdamai dengan lawan, yakni pada saat itu juga, manakala pertikaian sedang  berlangsung. Dengan begitu, kita akan merasa  lebih ringan. Sebaliknya, bila kita refleks menghindar, kita akan terbebani dalam waktu lama. Sesungguhnya,  dua  perasaan ini muncul dalam diri kita.           

Saudara-saudari terkasih.

Yang kita perlu lakukan adalah menyadari perasaan dan pikiran yang muncul, tanpa hanyut mengikutinya berlarut-larut. Disadari, lalu  diakui.  Ya, saya merasa takut dan ingin lari menghindar. Ada baiknya kita menciptakan waktu jeda untuk meredakan ketakutan. Doa berserah diri juga dapat menenangkan. Kondisi batin yang tenang akan membantu kita untuk melangkah berpindah tempat dari posisi terancam  menuju posisi siap berhadapan. Doa harapan dan berserah seperti doa Yesus di Taman Getsemani. Berdamai dapat dilakukan baik secara langsung  ataupun secara tidak langsung, menyampaikan permohonan maaf melalui doa. Yang juga penting adalah, permohonan rahmat  untuk bertobat dan tidak mengulangi lagi tindakan dosa. Kita memasuki hidup baru dalam Kristus, kita hidup di jalan yang Ia kehendaki. Dengan demikian kita akan mendapatkan kekuatan untuk  melawan dosa.          

Saudara-saudari terkasih.

Pertikaian dapat terjadi  tidak hanya antara diri sendiri dengan orang lain, tetapi juga antara bagian-bagian di dalam diri. Misalnya saat puasa dan pantang, kita sering mengalami pertikaian antara  hasrat lapar dengan pikiran menahan lapar. Sama seperti pertikaian dengan orang lain, kita juga perlu menyadari dan mengakui  konflik yang berlangsung di dalam diri, meredakannya, mendoakannya, dan mendamaikannya. Moderator dari konflik batin adalah sikap diam. Respon diam juga dapat membantu kita berdamai dengan orang lain. Diam membantu kita untuk menyimak perbedaan. Diam juga membantu  kita untuk menangkap inti maksud di balik paparan. Diam melatih hati kita menjadi peka, mau menempatkan diri di posisi lawan dan berempati memahami perbedaan, bahkan berbelas kasih dengan mengalah. Sadar diri, mengakui, doa, harapan dan berserah. Dapat melahirkan simfoni damai.                                                      

Saudara-saudari terkasih.

Dalam sebuah kelompok musik gamelan, tidak diperkenankan adanya aba-aba berupa kata. Gamelan dimulai dan diakhiri dengan tanda dari alat gendang. Setiap pemain alat memiliki keunikan cara bermain dan suara yang dihasilkan. Untuk menciptakan harmoni, satu sama lain perlu peka menyimak dan rendah hati menyesuaikan, begitu terus menerus tiap pemusik memainkan perannya masing-masing dan bersama-sama. Tiap pemusik menikmati, saling menghargai, dan saling mendukung. Pembelajaran ini dapat diterapkan dalam hidup bersama, baik di keluarga, kantor, ataupun bermasya rakat. Dalam komunikasi suami istri, perhatian acap salah fokus pada  kata-kata, bukannya pada bahasa non kata, termasuk inti maksud di balik kata. Bentuk komunikasi dengan fokus perhatian  melayani kebutuhan pasangan. Damai itu, bukan tampilan permukaan, sebaliknya getaran energi  dalam.                      

                  

REFLEKSI:

Sudahkah saya sungguhan berdamai, dengan lawan, kawan,Tuhan, maupun diri sendiri? Ataukah kita masih menyim,pan dendam??

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, terima kasih atas FirmanMu hari ini. Saya mau berdamai ya, Allah. Namun sering kali saya  mengalami pertentangan, baik dengan orang lain maupun dalam diri sendiri. Saya  masih cenderung menolak realita dan menuntutnya berubah menjadi ideal. Pun saya  menolak  kecenderungan saya melakukan penolakan. Terima kasih atas kesadaran ini. Amin.


 

LUMEN NO     :  9444