Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

HARAPAN PARA BANGSA

(Matius 12 : 20 21)

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.

Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Tidak semua tindakan yang dilandasi niat baik, akan diterima sebagai kebaikan pula. Bahkan kadang dibalas dengan kejahatan, seperti pepatah menuliskan: air susu dibalas air tuba. Peristiwa semacam ini juga dialami Yesus. Tidak hanya mengajar di Sinagoga dan Bait Allah, Yesus juga menyembuhkan banyak orang. Banyak orang kemudian mengikuti Yesus ke manapun Dia pergi.  Tindakan Yesus mewartakan Kerajaan Allah ini dipahami sebaliknya oleh orang-orang Farisi itu. Mereka bersekongkol untuk membunuh Yesus, karena Yesus dianggap menghujat Allah dengan ajaran-ajarannya, sehingga Yesus menyingkir dari satu tempat ke tempat lain. Namun, Yesus mengerti niat buruk orang-orang Farisi itu. Ia pun menyingkir dari tempat itu. Semua tindakan Yesus itu untuk menggenapi firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."

Saudara-saudari terkasih.

Ajaran Yesus untuk berbelaskasih kepada sesama diwarisi pada diri Laurensius Brindisi, seorang kudus yang dirayakan Gereja Katolik pada hari ini. Laurensius mahir berbicara dalam bahasa Ibrani, Yunani, Jerman, Bohemia, Spanyol, dan Prancis. Keahliannya ini membantunya untuk mempelajari Kitab Suci dalam bahasa aslinya. Ketika berusia 16 tahun, ia masuk biara Fransiskan Kapusin di Venisia. Atas permintaan Paus Klemens VIII Laurensius berkhotbah di Italia bagi golongan Yahudi. Laurensius dikenal umat sebagai seorang imam yang baik dan sangat peka terhadap kebutuhan umatnya.  Seoranmg Imam yang bukan meminta dilayani oleh umatnya, melainkan yang melayani umatnya.

Saudara-saudari terkasih

Pengalaman Yesus yang ditolak di antara bangsa-Nya sendiri dan karya orang kudus Laurentius Brindisi yang bersemangat melayani sesamanya melalui kemampuannya berbahasa dan membaca Kitab Suci menunjukkan satu hal kepada kita, yaitu mengajarkan cinta kasih Tuhan kepada manusia itu tidak mudah. Tidak ada yang salah dalam menyebarkan kabar gembira, tetapi bukankah setiap orang bebas memaknai perbuatan orang lain? Jika motivasi dalam mengabarkan Injil tersebut tidak mendalam dan murni, menghadapi segala halangan dan tantangan  akan menjadikan kita mundur teratur, patah arang, ogah-ogah-an. Kemanusiaan kita cenderung bersikap demikian. Namun, rasul-rasul Tuhan tidak diharapkan demikian. Yesus sudah menjanjikan bahwa buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya. Darimanakah daya tahan itu berasal? Dari Roh Kudus. Janji akan hadirnya Roh Kudus digenapi pada hari Raya Pentakosta dan pada hari-hari selanjutnya. Entah kita memohon, entah tidak. Jadi, penolakan orang lain ataupun berbagai kesulitan yang kita temui dalam karya kerasulan kita, tidak akan berpengaruh apapun, karena kita bekerja bersama Roh Kudus.

Saudara-saudari terkasih

Syukur bahwa kita tidak bekerja sendiri dalam mewartakan Injil. Syukur Roh Kudus bersama kita. Mengapa Yesus sebegitu bersungguh-sungguh mengirimkan Roh Kudus kepada kita? Apa yang Yesus harapkan dari karya pewartaan kita? Nampaknya, masalahnya bukan pada diri kita, tapi pada diri Yesus. Yang dimaksud bukanlah bahwa Yesus bermasalah, tetapi bahwa Yesuslah pokok pewartaan kita. Kita tidak mewartakan diri kita sendiri. Kita tidak mewartakan demi mendapatkan sesuatu, seperti harta-benda, jabatan, ataupun kehormatan. Banyak pewarta Injil tidak memahami tugas perutusannya ini. Mereka selalu menceritakan tentang keberhasilan dirinya, tentang harta benda yang dimilikinya, tentang hubungan sosialnya dengan orang-orang terkenal atau pejabat pemerintah. Mereka melupakan mewartakan Yesus Kristus.

 

REFLEKSI

Apakah kita lebih sibuk menyiarkan diri kita sendiri daripada mewartakan Yesus Kristus?

 

MARILAH KITA BERDOA

Ya Tuhan, utuslah Roh Kudus-Mu agar kami lebih bertekun mewartakan kabar gembira yang disebarkan Yesus, sehingga banyak orang tetap memiliki harapan akan datangnya Kerajaan Allah. Engkaulah, Harapan Iman Kami. Kini dan sepanjang masa. Amin.

  

 

LUMEN NO     :  9481