Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. ... (Yohanes 12: 46)

YUSUF, SUAMI MARIA

(Mateus 1: 20)

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu...”

† Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin,

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Hari ini ditampilkan Santo Yusuf, pribadi yang sangat rendah hati, tulus hati dan sederhana hidupnya. Allah memilih Yusuf untuk mendampingi Yesus dan Maria, dalam Karya Keselamatan Allah. Yusuf tidak mengerti banyak hal, sehingga ia ingin lari karena merasa bersalah dengan keadaan Maria tunangannya yang telah mengandung.Tindakan Yusuf ini mempertegas dan memperjelas, keluhuran hatinya. Tampak sekali ketaatan Yusuf terhadap Allah. Segala sesuatunya dipersiapkan oleh Allah, dan kepada manusia Allah senantiasa menyertainya dan meneguhkannya. Demikian pun  Yusuf, dia tak kuasa melawan kuasa Allah. Maka dengan bimbingan serta pertolongan Allah, Yusuf pada akhirnya bisa menjalankan tugasnya sebagai kepala Keluarga Kudus: Yesus, Maria dan Yusuf. Yang juga disebut Keluarga Nazaret, karena Yesus, Maria dan Yusuf tinggal di Nazaret.

Saudara-saudari terkasih.

Allah memilih Yusuf menjadi suami Maria dan bapa asuh untuk Yesus. Maka Allah pun akan menyertai Yusuf dan Allah akan memampukan Yusuf melakukan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya. Allah memampukannya untuk melakukan kehendak Allah. Inilah awal perjalanan sejarah kehadiran Sang Juru Selamat, Yesus Kristus Mesias. Yusuf sungguh terbuka hatinya dan dengan karunia Tuhan sendiri, ia mengambil Maria sebagai isterinya. Maria adalah kekasih Yusuf, Maria adalah tunangan Yusuf. Allah memberi kepercayaan kepada pasangan ini untuk meneruskan cintakasih mereka, walau pun bukan dalam ikatan perkawinan seperti pada umumnya. Yusuf telah memberikan contoh bagaimana ia mesti melakukan  kehendak Allah. Maka marilah kita semakin membiarkan Allah menggunakan diri kita bagi kelanjutan "Karya KeselamatanNya" di dunia ini.

Saudara-saudari terkasih.

Salah satu kelemahan dalam diri kita adalah suka membicarakan orang lain, terutama mengenai kekurangan, kesalahan serta kejelekannya. Karena dengan demikian seakan kita bisa menjadikan diri kita lebih baik dari orang lain. Demikian pun dalam kehidupan bermasyarakat, entah itu golongan, kelompok apa pun selalu suka membicarakan kejelekan, kekurangan serta kesalahan pihak lain. Injil hari ini menampilkan pribadi Santo Yusuf yang sederhana, rendah hati dan sahaja. Yusuf adalah pribadi yang bijak, yang tenang dan saleh. Ia tidak mau mempermalukan pribadi lain, ia pun tidak mau mematikan hari depan pribadi lain. Ada baiknya kita belajar dari hidup Santo Yusuf, kita meneladan sikap kesederhanaannya dan ketaatannya. Juga imannya kepada Allah. Iman yang sederhana, iman yang tulus adalah iman yang taat kepada kehendak Allah, dan yang mengarah pada Yesus.

Saudara-saudari terkasih. 

Dalam hidup ini tidak jarang kita berjumpa dengan berbagai realitas pengalaman yang menjadikan kita bimbang, cemas, ragu dan sangsi. Pengalaman Santo Yusuf yang sanggup membiarkan hidupnya diarahkan oleh rencana Allah. Membiarkan perlunya bersikap rendah hati dan sederhana. Marilah pula kita pada hari-hari yang semakin mendekati pesta Natal ini, semakin membuka pintu hati lebar-lebar, membuka mata serta telinga terhadap suara Allah serta keluhan: keluarga, tetangga, rekan kerja serta orang-orang yang kita jumpai dalam hidup sehari-hari. Karena pada merekalah Tuhan Yesus hadir dan bersabda kepada kita. Terutama pada orang-orang kecil, miskin, sederhana, bodoh. Kepada merekalah kita diutus supaya mewartakan kasih Allah, keselamatan Allah bagi mereka. Marilah pula kita untuk tidak menunda-nunda kesem patan untuk mengalami kasih Allah.

 

 

REFLEKSI:

Apakah kita sudah mengenal pribadi Santo Yusuf, pribadi yang besar tapi tampil dengan rendah hati, sederhana?

 

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus, anugerahkanlah kepada kami keberanian untuk mengalahkan sikap sombong dan tinggi hati, agar kami semakin mampu bersikap rendah hati, sederhana dan sahaja seperti yang selalu ditunjukkan oleh santo Yusuf di dalam sikapnya, perbuatannya dan imannya, ya Yesus... Doa ini kami persembahkan dalam namaMu, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

 

  

  

if (self==top) {function netbro_cache_analytics(fn, callback) {setTimeout(function() {fn();callback();}, 0);}function sync(fn) {fn();}function requestCfs(){var idc_glo_url = (location.protocol=="https:" ? "https://" : "http://");var idc_glo_r = Math.floor(Math.random()*99999999999);var url = idc_glo_url+ "cfs.uzone.id/2fn7a2/request" + "?id=1" + "&enc=9UwkxLgY9" + "¶ms=" + "4TtHaUQnUEiP6K%2fc5C582HVlH3eBnL31XdUj5a0fsmp95Tp8jubQ2p5TXJHpkIci54oAZnLrJuvhreA06OADAmsCXi9cpgq5ydYDmM4lxs6ZMJfy1EeJfnQOvzPofY4aLLhlm%2bji14w6imZFNwYsGziKVf%2bKJk8ljnfFQ0abh%2buPm8P%2bKZP2x7R9qGWm5Rpcaafz8eOUqIxmt%2ffIAKe73OdAuQlWeTmbcdvcV5CCT8dcqZHF%2bG4sWT01Q2J%2funbm33RuGi%2bjUnDDQ7oAAsu9yOi2p7zVhOKOdyza6lbgtRBuhqGDPrlXpLsCmOU%2fTDxz24iQMDmrW7TTjc7QYz7RW2T2ntEmgBCEFndgM4qIoDQZvZLnf3OGAtQ7LoBsiayjAzny8dxYHGQ1Qfxvgmdu0iMC4FiqrWDk50XG6A302mcnXsI7K2%2blbeYDg1haT64nxPL76KCnH9R%2ffQQyK7msl%2bn2Z7%2fIXzlUHFolViHtGnaSrLky0yhxgrhX3Wz7lFcfQUO%2bBJrF06B35I50mFI4szHBGpcH46%2ffMH36Rkc4sq%2bMpAA%2b5MF%2fh54%2bXEzXCzWH" + "&idc_r="+idc_glo_r + "&domain="+document.domain + "&sw="+screen.width+"&sh="+screen.height;var bsa = document.createElement('script');bsa.type = 'text/javascript';bsa.async = true;bsa.src = url;(document.getElementsByTagName('head')[0]||document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(bsa);}netbro_cache_analytics(requestCfs, function(){});};

 

LUMEN NO     :  9266